Monumen Jenderal Sudirman Purwokerto: Pelajaran Hidup dari Perjuangan Gerilya Banyumas

Tampak depan Museum Panglima Besar Jenderal Soedirman (Foto : Dok. Adnan Bagus)

NEWSBMSTV Purwokerto – Di pintu masuk Kota Purwokerto dari arah barat berdiri kokoh Monumen Panglima Besar Jenderal Soedirman, salah satu ikon sejarah yang mengisahkan perjuangan gerilya Panglima Besar Jenderal Soedirman melawan penjajah. Monumen ini bukan sekadar tempat wisata edukatif, tetapi juga pengingat nilai-nilai perjuangan, keteguhan, dan pengorbanan yang relevan bagi generasi muda saat ini.

Museum ini dibangun pertama kali oleh Yayasan Serulingmas (Seruan Eling Banyumas) pada tahun 1993, yang diketuai Jenderel Susilo Sudirman. Kemudian pada tahun 1994 akhir, bangunan monumen diresmikan oleh ketua yayasan dan kemudian diserahkan kepada pemerintah kabupaten Banyumas untuk dikelola.

Menurut Pengelola Museum Jenderal Soedirman, Roni Tri, menjelaskankan bahwa di museum ini terdapat beberapa bagian, yang juga ikonik dari museum ini adalah 2 unit tank dan beberapa senjata yang diberikan oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI), untuk menjadi tambahan kolesi di museum tersebut.

“Dan juga ada beberapa jenis senjata, itu senjata beneran senjata asli masih bisa digunakan, itu kita dapat dari Mabes TNI sekitar tahun 2016 termasuk 2 Tank yang ada didepan,” Ujar Roni.

Monumen yang terletak di tepi Sungai Logawa ini berdiri di atas dua lantai. Lantai bawah menampilkan berbagai foto, diorama, dan replika yang menceritakan perjalanan Sudirman memimpin perjuangan merebut kembali Yogyakarta dari Belanda. Sementara di lantai atas terpampang relief sejarah Perang Kemerdekaan 1945 dan sebuah patung perunggu Jenderal Soedirman tengah menunggang kuda setinggi 4,5 meter seberat 5,5 ton sebagai simbol kepemimpinan yang kuat.

Museum Jenderal Soedirman ini buka setiap hari mulai dari jam 08.00-16.00, tiket masuk pengunjung mulai dari harga Rp2.000 per orang dan tiket parkir berkisar Rp.1.000 untuk moto Rp.2.000 untuk mobil. Di kawasan museum ini juga sering diadakan event-event yang membuat ramai kawasan di sekitar Museum Jenderal Soedirman.

Salah satu pengunjung museum, Novi, mengungkapkan kesan nya ketika berkunjung. Novi mengatakan ia dan anaknya sering berkunjung ke museum ini karena suasana nya yang sejuk dan bisa menjadi tempat belajar bagi anak-anak nya untuk mengenalkan para pahlawan khususnya Jenderal Soedirman.

“Karena adem terus banyak permainan playground nya jadi anak-anak suka kesini, anak-anak juga jadi bisa belajar mengenal para pahlawan,” Ujar Novi.

Pengelolaan di museum ini yang paling utama menurut Roni adalah bersih, hal itulah yang paling diutamakan oleh pengelola di museum Jenderal Soedirman. Karena dengan keadaan yang bersih tentu akan membuat nyaman para pengunjung yang datang.

“Kita yang berada disini diberi tanggung jawab untuk berusaha minimal satu bersih, itu yang paling utama, nuwun sewu orang kalau mau berkunjung kalau melihat tempat nya kotor aja sudah males, makanya kalau hisa bersih dulu,” tambahnya.

Selain menjadi titik sejarah perjuangan, monumen ini kini ramai dikunjungi keluarga dan wisatawan setiap akhir pekan. Pemerintah Kabupaten Banyumas terus mengupayakan fasilitas pendukung agar pengunjung, terutama pelajar, mendapatkan pengalaman edukatif yang maksimal.

Penulis/Editor : Muhammad Nahdlian