Kiprah Pelukis Banyumas Mengais Rezeki Dari Ujung Kuas

Ki Mugo Sumedi, seorang seniman serba bisa asal Sokaraja, tengah menyelesaikan pesanan lukisan di kiosnya ( Foto/Dok : Fazal Muhtadie )

NEWSBMSTV PURWOKERTO – Di tengah geliat ekonomi kreatif lokal, pengrajin pelukis asal Banyumas, Ki Mugo Sumedi, terus mempertahankan eksistensinya melalui karya seni lukis. Ia menjalankan aktivitas melukis dari sebuah kios sederhana di perempatan Bancar Kembar, jln Prof. Dr. HR Boenyamin, tepatnya didepan Pasar Glempang.

Kios tersebut menjadi tempat Ki Mugo Sumedi mengerjakan berbagai pesanan lukisan potret dan karya seni lainnya dengan teknik manual dan ketelitian tinggi.

Terkait harga jasa, Ki Mugo Sumedi menjelaskan bahwa tarif lukisan disesuaikan dengan media yang digunakan.

“Kalau lukis satu wajah di media karton harganya tiga ratus lima puluh ribu rupiah, sudah berwarna lengkap, ukuran empat puluh kali lima puluh sentimeter, termasuk pigora,” ujarnya.

Sementara itu, untuk karya yang dikerjakan di atas media kanvas, nilai jualnya berada di kisaran lebih tinggi. Selain harga kanvas yang relatif mahal, proses pengerjaan juga menuntut ketelitian ekstra, ditunjang penggunaan pigora berkualitas dengan model ganda dan lebar khusus, sehingga biaya produksi dan nilai artistiknya pun menjadi lebih besar.

“Kalau kanvas paling murah satu jutaan, karena modalnya besar. Kanvas mahal, figuranya juga harus yang bagus, double dengan lebar sekitar delapan sentimeter,” tambahnya.

Selain soal harga, Ki Mugo Sumedi juga mengungkapkan tantangan terbesar dalam menjalani usaha jasa lukis.

“Tantangan terbesar itu kalau ada yang menuntut lukisan harus sama persis. Pelukis hanya bisa membuat mirip, karena Tuhan menciptakan manusia tidak ada yang sama. Walaupun kembar, tetap hanya mirip. Kalau diminta persis saya sanggup, tapi kalau dituntut harus sama betul, itu tidak bisa. Kadang juga ada pesanan yang tidak diambil, itu sudah risiko. Namanya usaha jasa, pasti ada suka dukanya,” tuturnya.

Ketekunan Ki Mugo Sumedi dalam menekuni seni lukis menjadi bukti bahwa karya seni masih memiliki ruang di tengah masyarakat. Dari kios sederhana di perempatan Bancar Kembar, ia terus menghadirkan karya-karya bernilai estetika, sekaligus menggantungkan harapan pada seni sebagai sumber penghidupan yang dijalani dengan kesabaran dan konsistensi.

Penulis/Editor : Tafaul Azky/Ari Nugroho