Berburu Harta Karun: Keliling Pasar Loak Dipasar Wage Purwokerto

Potret Aneka Barang Antik Dipasar Loak Purwokrto (Foto/Dok; Reza Dwi Zulfikri)

NEWSBMSTV Purwokerto – Disudut pertokoan kawasan Pasar Wage Purwokerto, seorang pria senja bernama Bapak Gendu masih setia menjajakan aneka barang loak di bawah terik matahari. Memulai langkahnya sejak tahun 1975, ia menjadi saksi hidup perkembangan ekonomi jalanan yang telah berpindah lokasi hingga empat kali demi bertahan hidup. Perjalanan panjangnya dimulai dari sebuah becak sederhana, menyusuri jalanan untuk menawarkan jam tembok dan arloji di era ketika telepon genggam belum menyentuh tangan masyarakat.

Barang-barang yang ia jual bukanlah barang mewah, melainkan harta karun yang ia pilih dengan teliti dari para pengepul rongsokan. Bapak Gendu tidak membeli dalam hitungan kilogram, melainkan memilah satu per satu barang yang sekiranya masih bisa diperbaiki atau diservis untuk kemudian dijual kembali. Arloji batu dan jam antik menjadi komoditas utamanya, dengan kisaran harga yang sangat terjangkau mulai dari Rp20.000 hingga Rp30.000 saja.

Keberadaan lapak sederhana ini menjadi solusi bagi warga yang mencari alternatif barang dengan harga miring. Mas Azhar, salah satu pembeli di lokasi tersebut, mengungkapkan bahwa pasar tradisional seperti ini menyediakan barang-barang unik yang sulit ditemukan di ritel modern.

“ya ini kan termasuknya pasar tradisional ya Mas, ya, Jadi kalau misal butuh alat-alat kebutuhan yang nggak bisa dibeli di toko besar, di sini bisa Mas. Karena ini kan barang-barangnya barang-barang apa ya bekas loh, jadi bebas loh bisa milih-milih,” ujar Azhar.

Meski usia tak lagi muda, Bapak Gendu menjaga rutinitasnya dengan disiplin, mulai membuka lapak pukul 10.00 pagi hingga jam 15.00 sore tiba. Pendapatannya pun tidak menentu; terkadang ia harus menelan pil pahit hanya mengantongi Rp100.000 dalam tiga hari, namun di hari lain rezeki bisa berpihak hingga mencapai Rp250.000. Tantangan terbesarnya hanyalah cuaca, karena hujan menjadi isyarat baginya untuk segera mengemas barang dan pulang ke rumah.

“Saya dari tahun ’75 tidak pernah ganti pekerjaan, tapi orang-orangnya sudah ganti semua, ini orang baru semua,”
pungkasnya dengan nada tenang namun penuh makna.

Kini, di masa tuanya, Bapak Gendu mulai memikirkan waktu untuk beristirahat dan melepaskan profesi yang telah ia geluti selama puluhan tahun. Sambil memandangi rekan-rekan pedagang muda di sekelilingnya, ia merenung tentang perjalanannya yang tak pernah berganti arah sejak dekade tujuh puluhan.

Penulis/Editor: Desmonda Azhar Ramadhan