Meski Musim Hujan, Pekerja Tetap Produktif, Begini Proses Produksi Genteng

Deretan genteng tanah liat mentah dijejer untuk proses pengeringan disalah satu sentra industri genteng rumahan di pencasan, ajibarang, Kab. Banyumas. (foto: dok. Fazal Muhtadie)

NEWSBMSTV Purwokerto -Di tengah intensitas curah hujan yang tinggi pada awal tahun ini, para pekerja di sentra produksi genteng tradisional di Pancasan, Ajibarang, Kab. Banyumas tetap menunjukkan produktivitas tinggi. Meski kondisi cuaca tidak menentu, proses pembuatan genteng terus berlanjut dengan berbagai penyesuaian teknis agar kualitas tetap terjaga, Kamis 15/1/26.

Sebagai salah satu sentra produksi genteng di wilayah Banyumas, Sokka Masinal KSM yang berdiri sejak tahun 1970-an menjadi bukti bahwa industri tradisional dapat bertahan dan tetap produktif meski dihadapkan pada berbagai tantangan, termasuk musim hujan yang sering menghambat proses pengeringan dan pembakaran. Berbekal pengalaman panjang serta keterampilan pengrajin yang diwariskan secara turun-temurun, Sokka Masinal KSM mampu melakukan penyesuaian teknis dengan memanfaatkan ruang pengeringan tertutup dan penggunaan mesin pres modern agar kualitas genteng tetap terjaga.

“pemasaran melalui telfon lalu dikirim ke berbagai daerah salah satunya Slawi, Bumiayu, dll”, Ujar Tutik

Dalam hal pemasaran, Sokka Masinal KSM memanfaatkan sistem pemesanan sederhana namun efektif, yaitu melalui komunikasi via telepon dari para pelanggan maupun pengepul. Setelah pesanan dicatat dan disesuaikan dengan stok yang tersedia, genteng kemudian dikirim ke berbagai daerah di luar Banyumas, seperti Slawi, Bumiayu, dan wilayah lain yang membutuhkan suplai rutin. Pola distribusi ini menunjukkan bahwa meskipun proses produksi masih mengandalkan metode tradisional yang dipadukan dengan penyesuaian modern, jangkauan pemasaran Sokka Masinal KSM tetap luas dan stabil. Hal ini turut memperkuat posisi usaha tersebut dalam berita sebelumnya, bahwa meski musim hujan dan tantangan produksi terus berlangsung, permintaan pasar tetap tinggi dan distribusi tetap berjalan lancar melalui jaringan pelanggan yang sudah terbangun kuat selama bertahun-tahun.

Jam kerja di Sokka Masinal KSM dimulai setiap hari pukul 07.00 hingga 16.00, dengan ritme produksi yang telah terjadwal agar tetap efisien meski kondisi cuaca sering berubah. Para pekerja ditargetkan sekitar 500 genteng per hari dalam sekali cetak, sehingga produksi dapat berjalan stabil dan mampu memenuhi kebutuhan pasar.

Dalam proses produksinya, Sokka Masinal KSM menggunakan bahan baku utama berupa tanah liat, pasir, dan solar yang kemudian digiling hingga halus sebelum dicetak menjadi genteng. Tanah liat berkualitas didatangkan dari wilayah Purbalingga, sementara pasir diperoleh dari Cilacap untuk memberikan kekuatan tambahan pada struktur genteng. Setelah melalui tahap pencampuran dan pencetakan, bahan yang sudah terbentuk dikeringkan dan selanjutnya dibakar menggunakan kayu bakar yang berasal dari daerah Cilongok.

Dalam satu bulan, Sokka Masinal KSM mampu memproduksi sekitar 10.000 hingga 15.000 genteng, tergantung kondisi cuaca dan ketersediaan bahan baku. Setelah melalui proses pengeringan dan pembakaran hingga matang, genteng siap pakai dijual dengan harga bervariasi, mulai dari Rp1.600 hingga Rp2.400 per genteng. Perbedaan harga ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, terutama kualitas material yang digunakan seperti tanah liat, pasir, solar, serta kayu bakar untuk proses pembakaran. Semakin baik dan stabil pasokan bahan baku, semakin tinggi kualitas genteng yang dihasilkan, sehingga memengaruhi harga jual di pasaran.

“pengecekan kualitas dilakukan dengan cara menyortir kembali pada saat setelah dilakukan pembakaran genteng”, Ujar Hamdan.

Penulis/Editor : Mohamad Hafiz Ulil Arbab
Foto : Dok. Fazal Muhtadie