
Bapak Tjie Hak secara simbolis memotong pita merah sebagai tanda dibukanya pameran lukisan bertajuk “Walking in Grace”, di sebuah galeri seni Hetero Space Purwokerto, (Foto/Dok : Fazal Muhtadie)
NEWSBMSTV Purwokerto– Pameran seni rupa bertajuk Walkin in Grace karya Chune Ebeg Mayong resmi dibuka di Hetero Space Purwokerto, pada Jumat (16/1/26). Pameran ini menghadirkan lebih dari 20 lukisan terbaru yang menonjolkan kombinasi warna cerah, goresan ekspresif, serta elemen artistik yang terinspirasi dari kehidupan sehari-hari dan budaya lokal.
Serangkaian acara pembukaan pameran Walkin in Grace berlangsung meriah dan tertata. Acara diawali dengan pembukaan, dilanjutkan dengan pertunjukan seni tari tradisional yang menggambarkan harmoni dan rasa syukur sebagai simbol dari tema pameran. Tak hanya itu, penampilan wayang turut memeriahkan suasana, menghadirkan unsur budaya lokal yang memperkaya nilai artistik acara. Puncak prosesi ditandai dengan pemotongan pita sebagai simbol dibukanya pameran secara resmi bagi masyarakat. Rangkaian kegiatan ini menunjukkan komitmen penyelenggara untuk menghadirkan pengalaman seni yang utuh dan bermakna bagi seluruh pengunjung.
“Walkin in Grace itu berjalanan dengan iman, bersyukur bahwa kita telah diberi karunia dan nikmatnya oleh tuhan,” Ujar Chune Ebeg Mayong.
Tema Walkin in Grace sendiri memiliki makna mendalam, yaitu berjalan dengan iman serta penuh rasa syukur atas karunia dan nikmat yang telah diberikan Tuhan. Chune Ebeg menjelaskan bahwa setiap karya dalam pameran ini tidak hanya menampilkan keindahan visual, tetapi juga mengajak pengunjung merenungi perjalanan hidup yang dipenuhi anugerah. Melalui simbol-simbol ekspresif dan permainan warna yang kuat, ia ingin mengingatkan bahwa dalam setiap langkah manusia terdapat sentuhan kasih dan kebaikan Tuhan yang patut disyukuri. Paragraf ini semakin menguatkan pesan spiritual yang menjadi benang merah seluruh karya yang ditampilkan dalam pameran Walkin in Grace.
“semua karya yang ada mengandung filosofi, jangan cuma hanya melihat goresannya saja”, Ujar Ki Mugo Sumedi.
Pengunjung yang hadir memadati galeri sejak pembukaan. Banyak yang memberikan apresiasi positif karena penyajian karya tersusun sistematis, dilengkapi penjelasan konsep pada setiap lukisan. Selain itu, panitia menyediakan sesi diskusi dan tur galeri yang dipandu langsung oleh seniman.
“persiapan pameran ini ada hampir 5 bulan, dengan teknik impasto”, Ujar Chune Ebeg Mayong.
Persiapan pameran Walkin in Grace memerlukan waktu hampir lima bulan, dimulai dari proses perencanaan konsep hingga penyelesaian setiap karya. Chune Ebeg mengungkapkan bahwa sebagian besar lukisan dalam pameran ini dikerjakan menggunakan teknik impasto, yakni teknik melapisi cat secara tebal sehingga menghasilkan tekstur yang kuat dan hidup pada permukaan kanvas. Teknik tersebut dipilih untuk mempertegas emosi dan kedalaman makna pada setiap lukisan, sekaligus memberikan pengalaman visual yang lebih dinamis bagi para pengunjung.
Pameran lukisan Walkin in Grace ini akan berlangsung selama tiga hari, mulai 16 hingga 18 Januari, dan dibuka untuk umum setiap hari pada pukul 10.00 hingga 21.00 WIB. Rentang waktu yang cukup panjang ini diharapkan memberi kesempatan lebih luas bagi masyarakat untuk menikmati seluruh karya Chune Ebeg dengan leluasa. Pengunjung dapat datang pada jam yang fleksibel, baik untuk sekadar melihat-lihat maupun mengikuti sesi tur galeri dan diskusi yang telah disiapkan panitia. Dengan penyelenggaraan selama tiga hari penuh, pameran ini diharapkan dapat menarik lebih banyak apresiasi serta memperkuat posisi seni rupa lokal di Purwokerto.
Editor/penulis : Mohamad Hafiz Ulil Arbab
Dokumentasi : Fazal Muhtadie