
Aktivitas produksi bedug tradisional di sentra kerajinan Gema Bedug, Desa Keniten, Kecamatan Kedungbanteng, tampak berlangsung sederhana dengan tumpukan kayu bahan baku yang siap diolah, seiring meningkatnya pesanan bedug jelang bulan suci Ramadhan. (Foto: Dok. Adnan Bagus)
NEWSBMSTV Purwokerto – Menjelang bulan suci Ramadhan, produksi bedug tradisional di sentra kerajinan “Gema Bedug” yang berlokasi di Desa Keniten, Kecamatan Kedungbanteng, mengalami peningkatan drastis. Lonjakan permintaan datang dari berbagai daerah, khususnya dari masjid dan mushola. Usaha kerajinan bedug tradisional Gema Bedug telah berdiri sejak tahun 1990-an dan hingga kini tetap bertahan sebagai salah satu sentra produksi bedug tradisional di wilayah tersebut.
Kualitas bahan menjadi perhatian utama dalam proses produksi bedug tradisional Gema Bedug. Kulit sapi yang digunakan sangat memengaruhi kualitas suara dan daya tahan bedug, mulai dari tingkat ketebalan hingga keawetannya. Untuk memastikan kekuatan maksimal, pemasangan kulit dilakukan dengan teknik khusus menggunakan paku serta lem berkualitas tinggi sehingga menghasilkan kerekatan yang sangat kuat. Selain itu, bahan kayu pada badan bedug dapat direquest sesuai kebutuhan konsumen, seperti kayu jati dan jenis kayu keras lainnya, yang secara kualitas mampu bertahan hingga 10 tahun, sementara kulit bedug memiliki masa pakai minimal 5 hingga 7 tahun.
“kalo hari biasa atau sebelum ramadhan paling pesenan cuma beberapa sekitar tiga atau lima, tapi kalo mau ramadhan alhamdulillah banyak”, Ujar Yusuf
Lonjakan permintaan bedug tradisional menjelang bulan suci Ramadhan menjadi fenomena tahunan yang dirasakan langsung oleh pelaku usaha Gema Bedug. Pada hari-hari biasa, jumlah pesanan relatif terbatas, yakni hanya sekitar tiga hingga lima unit bedug. Namun, memasuki periode jelang Ramadhan, permintaan meningkat tajam seiring dengan persiapan masjid dan musala dalam menyambut bulan ibadah. Kondisi ini membuat aktivitas produksi semakin padat, dengan para pengrajin harus menambah jam kerja agar seluruh pesanan dapat terpenuhi tepat waktu. Peningkatan tersebut sekaligus mencerminkan tingginya kepercayaan konsumen terhadap kualitas bedug tradisional yang telah diproduksi secara turun-temurun sejak tahun 1990-an.
Proses pembuatan satu bedug membutuhkan waktu sekitar 1 minggu, mulai dari pemilihan kayu, pembentukan tabung, pengeringan, hingga pemasangan kulit dan penyetelan suara. Untuk mengantisipasi lonjakan permintaan, Gema Bedug menambah jam kerja (lembur). jam produksi di hari biasa ada di jam 8 pagi hingga 5 sore.
Bedug yang diproduksi oleh Gema Bedug memiliki beragam ukuran, mulai dari diameter paling kecil sekitar 40cm hingga ukuran terbesar mencapai diameter 1 meter. Produksi dilakukan secara fleksibel, baik berdasarkan pesanan khusus maupun untuk stok guna mengantisipasi lonjakan permintaan jelang Ramadhan. Dari segi harga, bedug tradisional ini dibanderol mulai dari Rp2,5 juta untuk ukuran kecil, sementara bedug berdiameter 1 meter dapat mencapai harga sekitar Rp20 juta, tergantung bahan dan tingkat pengerjaan, tanpa mengurangi kualitas suara dan ketahanan produk.
“dari Riau, Kalimantan, Brebes, Wonosobo sama dari Jakarta juga ada”, tambahnya
Selain memenuhi kebutuhan pasar lokal, produk bedug tradisional Gema Bedug juga dipasarkan hingga ke berbagai daerah di luar wilayah Banyumas. Pengiriman dilakukan ke sejumlah daerah seperti Riau, Kalimantan, Brebes, Wonosobo, hingga Jakarta, menyesuaikan pesanan konsumen. Proses distribusi dilakukan dengan pengemasan khusus guna menjaga keamanan produk selama perjalanan, mengingat ukuran dan bobot bedug yang cukup besar. Jangkauan pengiriman antardaerah ini menunjukkan tingginya minat serta kepercayaan konsumen terhadap kualitas bedug tradisional produksi Desa Keniten, Kecamatan Kedungbanteng, terutama menjelang bulan suci Ramadhan.
Editor/Penulis : Mohamad Hafiz Ulil Arbab