Usaha Peternakan Ayam Kampung Alba Ramah Lingkungan di Desa Teluk, Purwokerto Selatan

Banner Pamuja Farm Breeding dan Farm di Teluk, Purwokerto Selatan (Foto : Dok. Adlan)

NEWSBMSTV Purwokerto – Di tengah permukiman Dusun Pamujan, Desa Teluk, Kecamatan Purwokerto Selatan, sebuah kandang ayam berdiri tepat di samping rumah warga tanpa menimbulkan bau menyengat. Justru yang terasa adalah suasana bersih dan tertata. Inilah peternakan ayam kampung jenis Alba milik Wiwit Susanto, yang menjadi bukti bahwa usaha ternak ayam di desa bisa tetap nyaman dan ramah lingkungan.

Sebelum menekuni dunia peternakan, Wiwit bekerja sebagai petugas keamanan di salah satu bank. Namun perubahan sistem kerja dan pengurangan jam lembur membuatnya harus memutar otak untuk mencari tambahan penghasilan.

“Sebelumnya saya bekerja di salah satu bank BML jadi security. Kebetulan ada pengurangan jam kerja atau lemburannya dihilangkan, makanya saya berputar supaya bisa menghasilkan tambahan, jatuhnya ke ayam,” ujar Wiwit.

Pilihan beternak ayam bukan tanpa pertimbangan. Dengan keterbatasan waktu akibat sistem kerja shifting dan tanpa keahlian khusus, Wiwit mencari usaha yang bisa dikelola secara mandiri.

“Saya nggak punya skill khusus, dan kita juga terikat shifting jam kerja. Susah kalau cari usaha yang harus diatur ini itu. Akhirnya saya pilih ayam, karena samping rumah ada lahan kosong dan bisa kita atur sendiri,” lanjutnya.

Wiwit kemudian memilih ayam kampung jenis Alba, yang masih terbilang langka di Indonesia, khususnya di wilayah Banyumas. Selain produktivitasnya tinggi, ayam ini dikenal lebih hemat pakan dan tidak mengeluarkan bau menyengat jika kandangnya dirawat dengan baik.

Ayam Alba hanya membutuhkan sekitar 75 gram pakan per ekor, dengan perawatan yang mudah seperti ayam kampung pada umumnya. Saat ini, Wiwit memelihara sekitar 100 ekor ayam di kandang yang rutin dibersihkan dan memiliki sirkulasi udara baik, sehingga tetap nyaman meski berada di lingkungan pemukiman.

Dari peternakan berskala rumahan ini, Wiwit mampu meraih omzet jutaan rupiah setiap bulan. Hasilnya berasal dari penjualan telur, DOC atau anakan ayam, hingga ayam pullet.

“Kalau omzet, kami jual telur, jual DOC, ada juga jual pullet. Kurang lebih satu bulan sekitar empat jutaan,” katanya.

Tak hanya menjalankan usaha, Wiwit juga berharap generasi muda ikut terjun ke dunia peternakan sebagai bagian dari ketahanan pangan.

“Pesan untuk anak muda, kita harus mulai dari yang terkecil dulu. Ini nggak butuh keahlian khusus, cuma butuh ketelatenan dan konsisten. Ayam ini makhluk hidup, sakit dan mati itu pasti, tapi bagaimana cara kita merawatnya,” tuturnya.

Menurutnya, anak muda—terutama generasi milenial—perlu menjadi penerus peternak di masa depan.

“Tetap semangat, karena ini nggak harus jumlah populasi banyak. Cukup dari kecil dulu, tapi jalan. Pelan-pelan pasti bisa berkembang,” pungkasnya.

Penulis/Editor : Tafaul Azky
Dokumentasi : Adlan Abraar Sulthani