
Mahasiswa Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) menghadirkan inovasi pemberdayaan masyarakat melalui Program BUNILA (Budidaya Ikan Nila) dan BESTITANI (Budidaya Anggur serta Tanaman Katuk) sebagai upaya mencegah anemia pada remaja di Desa Kalisalak, Kabupaten Banyumas.(Foto: Dok UMP)
NEWSBMSTV-BANYUMAS – Mahasiswa Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) menghadirkan inovasi pemberdayaan masyarakat melalui Program BUNILA (Budidaya Ikan Nila) dan BESTITANI (Budidaya Anggur serta Tanaman Katuk) sebagai upaya mencegah anemia pada remaja di Desa Kalisalak, Kabupaten Banyumas.
Program tersebut diluncurkan dalam Workshop dan Peresmian BUNILA dan BESTITANI yang digelar di Balai Desa Kalisalak pada 15 Juli 2026. Kegiatan ini merupakan implementasi Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) BEM Fakultas Farmasi UMP melalui subproposal bertajuk DOPAMIN (Program Revitalisasi, Optimalisasi, dan Integrasi Masyarakat Desa Kalisalak Guna Mencegah dan Mengurangi Angka Anemia Remaja Menuju Desa Sehat).
Workshop dihadiri Dosen Pendamping PPK Ormawa BEM Fakultas Farmasi UMP Apt. Anjar Mahardia Kusuma, M.Si., Kepala Desa Kalisalak Ilham Triyono beserta jajaran, perwakilan Dinas Pertanian Kabupaten Banyumas, Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Banyumas, kelompok budidaya ikan, pengurus PKK, perangkat desa, serta masyarakat setempat.
Kepala Desa Kalisalak, Ilham Triyono, mengapresiasi kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, dan instansi terkait dalam mendukung peningkatan kesehatan masyarakat.
Materi workshop diawali dengan sosialisasi budidaya ikan nila yang disampaikan oleh perwakilan Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Banyumas, Arif Yulianto, S.Pi. Ia menjelaskan bahwa ikan nila merupakan sumber protein hewani yang mudah dibudidayakan, memiliki nilai ekonomi, sekaligus kaya nutrisi yang dibutuhkan tubuh.
“Selain memiliki peluang usaha yang menjanjikan, budidaya ikan nila juga kami harapkan mampu meningkatkan konsumsi protein keluarga sehingga mendukung pencegahan anemia,” ujar Arif.
Selanjutnya, Dinas Pertanian Kabupaten Banyumas melalui Supriyono, S.Kom., memperkenalkan konsep BESTITANI yang mengembangkan budidaya tanaman anggur dan tanaman katuk sebagai pemanfaatan lahan pekarangan.
Menurutnya, tanaman katuk kaya akan zat besi, vitamin, dan nutrisi yang berperan dalam pembentukan sel darah merah, sedangkan budidaya anggur memiliki nilai ekonomi yang dapat meningkatkan pendapatan masyarakat.
“Budidaya anggur tidak hanya bernilai ekonomi, tetapi juga dapat menjadi peluang usaha masyarakat sekaligus mendukung peningkatan kesehatan keluarga,” jelas Supriyono.
Melalui perpaduan budidaya ikan nila, tanaman katuk, dan anggur, program ini tidak hanya berfokus pada peningkatan gizi masyarakat, tetapi juga diarahkan untuk memperkuat ketahanan pangan dan pemberdayaan ekonomi warga Desa Kalisalak.
Program tersebut mendapat sambutan positif dari masyarakat. Salah seorang peserta, Badrun, menilai BUNILA dan BESTITANI menjadi inovasi yang mampu menjawab persoalan gizi di desa.
“Program ini sangat bagus untuk kemajuan desa. Masyarakat memiliki alternatif meningkatkan pemenuhan gizi dan zat besi, khususnya bagi anak-anak dan remaja yang mengalami anemia. Saya berharap program ini menjadi solusi nyata dalam mengurangi angka anemia di Desa Kalisalak,” katanya.
Dosen Pendamping PPK Ormawa BEM Fakultas Farmasi UMP, Apt. Anjar Mahardia Kusuma, M.Si., berharap semangat masyarakat dapat menjadi modal utama agar program terus berlanjut.
“Program ini sudah berjalan dengan sangat baik. Antusiasme masyarakat menjadi modal utama agar kegiatan tidak berhenti pada tahap awal, tetapi terus berkembang sehingga manfaatnya benar-benar dirasakan dalam jangka panjang,” ujarnya.
Apresiasi juga datang dari Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Banyumas. Arif Yulianto menilai mahasiswa tidak hanya memberikan edukasi, tetapi juga terjun langsung mendampingi masyarakat.
“Kolaborasi mahasiswa dengan pemerintah daerah menjadi nilai tambah sehingga program dapat berjalan lebih optimal dan memberikan dampak yang lebih luas,” ungkapnya.
Hal senada disampaikan Said dari Balai Penyuluhan Pertanian Kecamatan Kebasen. Menurutnya, program tersebut sangat relevan dengan kondisi Desa Kalisalak yang masih menghadapi persoalan gizi.
“Melalui budidaya tanaman katuk dan anggur yang kaya nutrisi serta budidaya ikan nila sebagai sumber protein, diharapkan dapat membantu menurunkan angka anemia dan meningkatkan kesehatan masyarakat,” tuturnya.
Berbeda dengan kegiatan penyuluhan pada umumnya, workshop ini dilanjutkan dengan aksi nyata berupa penyebaran benih ikan nila ke kolam budidaya serta penanaman simbolis bibit anggur dan tanaman katuk di lingkungan desa.
Ketua Tim PPK Ormawa BEM Fakultas Farmasi UMP, Meilani Wiji Astuti, mengatakan langkah tersebut menjadi tanda dimulainya implementasi Program BUNILA dan BESTITANI yang akan terus didampingi oleh tim mahasiswa bersama pemerintah desa dan para mitra.
Melalui Program DOPAMIN, mahasiswa Fakultas Farmasi UMP mengintegrasikan aspek kesehatan, pertanian, perikanan, dan pemberdayaan ekonomi dalam satu gerakan bersama. Program ini diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya konsumsi pangan bergizi, memperkuat ketahanan pangan desa, membuka peluang ekonomi baru, serta menjadi solusi berkelanjutan dalam menekan angka anemia remaja di Desa Kalisalak menuju desa yang sehat, mandiri, dan berdaya.
Penulis/Editor: Ari Nugroho