Mie Ayam Pak Tomo: Legenda Rasa Mie Ayam Khas Bumiayu

Mie ayam legend di purwokerto khas Bumiayu (Foto/Dokumen: Reza Dwi Zulfikri)

NEWSBMSTV Purwokerto – Di sudut Gedung Perdagangan kota Purwokerto yang tenang, kepul uap panas dari sebuah kuali besar membawa aroma gurih yang khas. Adalah Pak Tomo, pria asal Bumiayu yang telah mendedikasikan lebih dari separuh usianya di balik gerobak mie ayam. Sejak tahun 1986, ia konsisten menyajikan semangkuk kehangatan bagi pelanggan setianya.

Keistimewaan mie ayam ini tidak hanya diakui oleh Pak Tomo, tetapi juga oleh para pelanggan setianya seperti Ibu Ayu yang dulu sering datang bersama teman kantor karena menyukai tekstur mienya yang khas dan diduga merupakan buatan sendiri.

Bagi Pak Tomo, mie ayam adalah perjalanan merantau yang membawanya kembali ke akar budaya setelah sempat mengadu nasib di Bandung. Ia memutuskan menetap di lokasi saat ini karena kedekatan akses ke tanah kelahirannya. Perjalanan harganya pun menjadi saksi bisu perubahan zaman, mulai dari Rp75 hingga kini menjadi Rp12.000 per porsi.

Rahasia kelezatannya terletak pada racikan minyak bawang dan lada yang kuat khas Bumiayu, berbeda dengan mie ayam lain yang biasanya hanya mengandalkan kecap botolan.

“Minyak bawang, lada… Kalau Bumiayu ya Mas, ada bawang ada lada. Yang lainnya kan botolan saja.” Ujar Pak Tomo

Kesederhanaan juga tampak dari cara Pak Tomo mengelola usahanya. Ia mulai melayani pelanggan setiap harinya sejak pukul 09.00 pagi. Meski teknologi digital marambah luas, ia tetap setia pada pembayaran tunai dan berkelakar bahwa dirinya adalah orang “jadul” dengan ponsel zaman dulu.

“Cash saja, saya orang jadul. HP-nya zaman Belanda.” Tambah Pak Tomo

Keterbatasan ini tidak menyurutkan minat pelanggan; sekitar 100 porsi selalu ludes terjual setiap hari, yang berarti Pak Tomo mampu meraup omset kotor sekitar Rp1.200.000 dalam sehari. Saking larisnya, dagangannya seringkali sudah habis terjual sebelum pukul tiga sore.
Kini, setiap menjelang bulan suci Ramadhan, Pak Tomo memilih untuk mengistirahatkan gerobaknya sejenak untuk mudik dan menghormati bulan puasa.

Keputusan ini menunjukkan bahwa baginya, keseimbangan antara ibadah, keluarga, dan pekerjaan adalah hal utama. Mie ayam Pak Tomo bukan hanya tentang rasa yang lezat dengan harga yang dianggap sangat menguntungkan bagi pelanggan, tetapi tentang konsistensi seorang perantau yang menjaga warisan kuliner dengan penuh rasa syukur dan kesederhanaan.

Penulis: Desmonda Azhar Ramadhan
Dokumentasi: Reza Dwi Zulfikri