
Tampak Depan Gerobak Penjual Martabak Mini (Foto : Dok. Mu’afa Faiz Rifa Ulhaq)
NEWSBMSTV Purwokerto – Di tengah hiruk-pikuk arus lalu lintas di depan SDN 2 Sumampir, aroma harum adonan panggangan menarik perhatian siapa pun yang melintas. Di sana, sebuah gerobak bertajuk “Martabak Mini Bintang Rasa” menyajikan variasi mungil dari kudapan klasik terang bulan yang menggugah selera. Daniel, sang pemilik, dengan telaten mengolah adonan di atas loyang-loyang kecil yang menghasilkan tekstur martabak yang pas dan garing di pinggir namun tetap lembut dan kenyal di tengah.
“Kalau di luar (daerah lain) namanya terang bulan, tapi di sini kita buat versi mini agar lebih ekonomis bagi pelanggan,” ujar Daniel.
Keunikan martabak manis ini terletak pada fleksibilitas rasanya yang beragam meskipun ukurannya kecil. Pelanggan dapat memilih berbagai topping mulai dari cokelat meses yang melimpah, parutan keju yang gurih, hingga selai stroberi dan kacang. Semua varian ini disempurnakan dengan kucuran susu kental manis yang meresap ke dalam pori-pori martabak yang masih hangat. Inovasi ukuran mini ini sengaja dipilih Daniel agar penikmat kuliner bisa mencicipi berbagai varian rasa sekaligus tanpa harus merogoh kocek dalam-dalam.
Kelezatan martabak manis ini pun memiliki waktu-waktu primadonanya sendiri. Biasanya, antrean mulai memanjang saat matahari terbenam, terutama setelah waktu Magrib dan Isya. Pada jam-jam tersebut, Daniel bisa menghabiskan hingga dua ember besar adonan untuk memenuhi pesanan pelanggan yang didominasi oleh kalangan mahasiswa dan warga sekitar.
“Alhamdulillah, kalau mahasiswa sudah aktif kuliah, pesanan bisa sangat ramai sampai menghabiskan dua ember adonan per hari,” ungkapnya dengan syukur.
Dibalik setiap porsi martabak manis yang disajikan, tersimpan dedikasi Daniel untuk terus menjaga kualitas rasa selama tiga tahun perjalanannya merintis usaha. Ia percaya bahwa konsistensi rasa adalah kunci utama agar martabak mini buatannya tetap dicintai pelanggan meskipun banyak kompetitor kuliner modern bermunculan. Baginya, martabak manis ini bukan sekadar jajanan, melainkan wujud aksi nyata dalam membangun kemandirian ekonomi.
“Yang penting aksi nyatanya, usaha dulu dan berikan yang terbaik untuk pelanggan,” pungkas Daniel menutup pembicaraan.
Penulis/Editor : Muhammad Fawaz Nurfuadi