
Donat Legendaris, Favorit Lintas Generasi (Foto/Dokumentasi : Ilham Syahrir Ramadhan)
NEWSBMTV PURWOKERTO – Di saat dunia kuliner terus berlomba menciptakan tren baru dengan harga yang selangit, di sebuah sudut Jalan Jaelani, Karangwangkal, Purwokerto, waktu seolah berhenti berputar. Di sana, seorang pria paruh baya tetap setia dengan sebuah gerobak sederhana, menjajakan butiran adonan goreng yang ia sebut sebagai “kebahagiaan murah meriah”.
Siang itu, matahari di Purwokerto cukup menyengat, namun Bapak Tarihun tetap tenang di balik topi abu-abu lusuhnya. Tangannya yang nampak sangat hafal dengan tekstur adonan, dengan lincah menata barisan donat mungil berwarna kuning keemasan di balik etalase kaca.
Sudah 20 tahun lamanya, Jalan Jaelani menjadi saksi bisu perjuangan Pak Tarihun. Tidak ada kafe mewah, tidak ada papan lampu neon. Hanya sebuah gerobak bertuliskan “Donat Mini” yang telah menjadi legenda bagi para mahasiswa dan warga sekitar Karangwangkal.
“Kalau dibikin besar kan matangnya agak lama, Mas. Mending bikin yang kecil tapi cepat prosesnya, jadi pembeli tidak kelamaan menunggu,” ujar Pak Tarihun sambil tersenyum tulus.
Bagi Pak Tarihun, ukuran mini bukan soal estetika semata, melainkan tentang menghargai waktu pelanggannya. Di balik kesederhanaan itu, tersimpan efisiensi yang ia bangun selama dua dekade.
Yang lebih mengejutkan lagi bukan hanya konsistensinya dalam rasa, melainkan harganya. Di tengah bahan baku yang terus naik, Pak Tarihun seolah enggan mengikuti arus. Ia masih menjual donatnya dengan harga yang sulit dipercaya di tahun 2026 ini: Rp200 perak per biji.
Hanya dengan selembar uang lima ribu rupiah, pelanggan sudah bisa membawa pulang satu porsi penuh berisi donat hangat dengan berbagai varian rasa. Mulai dari taburan cokelat kacang yang gurih, hingga rasa original dan pisang yang aromanya selalu menggoda setiap pelintas jalan.
Tepat pukul 13.00 WIB, Pak Tarihun mulai menyalakan semangatnya. Pelanggan datang silih berganti; mulai dari mahasiswa yang mencari camilan murah di sela kuliah, hingga orang tua yang ingin membawakan buah tangan untuk anaknya di rumah. Tak jarang, sebelum jam menunjukkan pukul 17.00 WIB, dagangannya sudah ludes terjual.
Pak Tarihun dan donat mininya adalah pengingat bagi kita semua. Bahwa di tengah dunia yang bergerak serba cepat dan mahal, masih ada ruang bagi kesederhanaan dan kejujuran. Dua puluh tahun bertahan bukanlah waktu yang singkat, namun bagi Pak Tarihun, kepuasan pelanggan yang menikmati donat hangatnya adalah bahan bakar yang membuatnya terus bertahan di Jalan Jaelani.
Editor/Penulis : Riyan Budi Prasetyo