
Gerobak Kopi Keliling yang sedang dikunjungi pelanggan (Foto : Dok. Mu’afa Faiz Rifa Ulhaq)
NEWSBMSTV Purwokerto – Di tengah hiruk pikuk jalanan Purwokerto, sebuah tren kuliner baru kini menghiasi trotoar dan sudut-sudut kota melalui kehadiran bar kopi di atas sepeda motor. Fenomena kopi keliling atau “kopling” ini bukan lagi sekadar pedagang asongan biasa, melainkan unit usaha mandiri seperti Mlaku Coffee dan Teman Coffee yang menawarkan kopi siap saji dengan harga yang sangat merakyat, yakni sekitar Rp7.500 hingga Rp8.000 per cup. Dengan kotak pendingin dan payung merah yang ikonik, para barista jalanan ini menjemput bola di pusat-pusat keramaian, menciptakan suasana “kafe trotoar” yang unik dan inklusif di sepanjang jalanan Purwokerto. Bagi para pelakunya, model bisnis ini dipilih karena fleksibilitas dan jangkauan pasar yang lebih dinamis dibandingkan kedai kopi permanen. Adrian, salah satu penjual kopi keliling Mlaku Coffee, mengungkapkan alasannya memilih jalur ini
“Karena lebih banyak pembelinya sih mas, ya gitu,” ujarnya saat ditemui di sela kesibukan melayani pelanggan.
Menurutnya, dalam sehari ia mampu menjual hingga puluhan cup, terutama pada jam-jam sibuk.
“Per harinya kadang sampai 50 cup bisa, jam-jam ramenya dari jam 11 (siang) sampai jam 1 (dini hari),” tambah Adrian yang menunjukkan bahwa kopi kini telah menjadi kebutuhan hampir sepanjang waktu bagi warga kota.
Di sisi lain, konsumen merasa sangat terbantu dengan keberadaan kopi keliling yang praktis dan ekonomis ini, terutama bagi mereka yang memiliki aktivitas padat. Seorang pembeli yang sedang menanti pesanannya menyatakan bahwa kopi keliling adalah solusi saat ingin mengerjakan tugas tanpa harus mengeluarkan biaya besar.
“Apalagi kalau mau tugas, mau ngampus gitu biasanya beli ini dulu,” jelasnya.
Ia juga menambahkan bahwa kemudahan akses menjadi nilai tambah utama
“Pertama ya harganya, terus lebih gampang gitu lho, nggak harus ke kafe dulu gitu kalau buat nugas,” pungkasnya.
Meski terlihat menjanjikan, tantangan alam tetap menjadi momok utama bagi bisnis yang sangat bergantung pada ruang terbuka ini. Adrian mengakui bahwa cuaca adalah kendala terbesar dalam operasional sehari-hari mereka
“Kalau tantangan terbesarnya sih mungkin karena kendala cuaca mas, karena hujan gitu jadi kendala terbesar,” ungkapnya.
Kendati demikian, antusiasme warga Purwokerto yang tetap setia menyeruput kopi di pinggir jalan meski harus bersaing dengan deru mesin kendaraan menunjukkan bahwa budaya kopi keliling telah menemukan tempat spesial di hati masyarakat, menjadi simbol kreativitas ekonomi yang sederhana namun bermakna.
Penulis/Editor : Muhammad Fawaz Nurfuadi