
Foto berbagai alat tradisional, seperti celengan, kendi untuk siraman pengantin, ciri,cobek (Foto/Dok. Riyan Budi Prasetyo)
NEWSBMSTV Purwokerto-Di balik deretan rak besi yang mulai kusam, warna-warna cerah dari kendi, gentong, dan celengan tanah liat tersusun rapi. Merah, hijau, kuning, hingga biru mencolok berpadu dengan tekstur kasar gerabah yang masih mempertahankan aroma tradisi. Inilah sebuah toko perabotan tradisional yang setia bertahan di tengah gempuran peralatan rumah tangga modern berbahan plastik dan logam.
Toko ini tidak sekadar menjual barang, tetapi juga menyimpan cerita panjang tentang kerja tangan, kesabaran, dan warisan budaya. Celengan berbentuk ayam dan kucing yang berjajar di rak atas, misalnya, bukan sekadar benda hias. Bagi banyak orang tua, benda itu menjadi simbol kebiasaan menabung sejak kecil—tradisi sederhana yang kini kian jarang ditemui.
Di rak tengah, kendi dan wadah air tanah liat masih menjadi pilihan sebagian warga. Selain dipercaya mampu menjaga kesegaran air, perabotan ini juga dianggap lebih ramah lingkungan. Sementara di rak bawah, tampak tungku, cobek, serta periuk tanah liat yang masih digunakan untuk memasak dengan cara tradisional, terutama oleh pedagang makanan dan warga desa sekitar.
Pemilik toko menjalani hari-harinya dengan rutinitas sederhana: membuka toko sejak pagi, menyusun ulang barang, dan melayani pelanggan yang datang silih berganti. Tidak selalu ramai, namun setiap pembeli memiliki cerita. Ada yang datang karena kebutuhan, ada pula yang sekadar bernostalgia, mengenang masa kecil ketika dapur rumah dipenuhi perabotan serupa.
“Toko ini sudah berdiri sejak sekitar tahun 70-an, Kami menjual berbagai macam alat tradisional, seperti celengan, kendi untuk siraman pengantin, ciri,cobek.”ujar bani pemilik toko
Di tengah perubahan zaman, toko ini menjadi saksi bisu pergeseran selera masyarakat. Perabotan modern yang praktis dan murah kerap menjadi pilihan utama. Namun demikian, toko tradisional ini tetap bertahan, mengandalkan pelanggan setia dan mereka yang masih menghargai nilai fungsi sekaligus filosofi perabotan tanah liat.
Lebih dari sekadar tempat jual beli, toko ini adalah ruang perjumpaan antara masa lalu dan masa kini. Setiap kendi, tungku, dan celengan menyimpan jejak tangan pengrajin serta cerita kehidupan yang mengalir pelan, namun tetap bertahan. Di rak-rak sederhana itu, tradisi terus dijaga—diam, namun bermakna.
Penulis/Editor : Ilham Syahrin Ramadhan
Dokumentasi : Riyan Budi Prasetyo