
Dari Depan Sekolah ke Kampung, Strategi Jualan Pak Toro Bertahan Hidup (Foto/Dokumentasi : Reza Dwi Zulfikri)
NEWSBMSTV Purwokerto – Dibalik kepulan uap penggorengan di depan SMA 2 Purwokerto, sosok Pak Toro setia melayani pelanggan setianya setiap sore hari. Pria asal Baturraden ini telah menekuni profesi sebagai pedagang jajanan selama kurang lebih dua tahun. Dengan senyum ramah, ia menjajakan variasi kudapan yang menggugah selera bagi para siswa maupun warga sekitar yang melintas di kawasan tersebut.
Kualitas dagangan Pak Toro pun diakui oleh para pembeli, salah satunya adalah Mas Dwi. Sebagai pelanggan setia, ia merasa cita rasa tahu yang ditawarkan sangat sesuai dengan lidahnya. “Karena menurut saya tahunya itu ya gurih, terus dengan harga segini juga sudah dapat banyak varian rasa ini, Mas. Jadi ya worth it-lah dengan harga segini. Apalagi di jajanan-jajanan pinggir jalan ya, worth it banget intinya ini,” ujar Mas Dwi saat sedang mengantre. Meski tersedia sotong, Mas Dwi mengaku lebih menyukai tekstur tahu buatan Pak Toro.
Menu utama yang menjadi andalan Pak Toro memang terdiri dari sotong, tahu bulat, dan cibay. Ketiga jenis jajanan ini dijual dengan harga yang sangat terjangkau, yakni mulai dari Rp3.000 saja. Untuk urusan rasa, ia menyediakan berbagai pilihan bumbu seperti balado, pedas, dan asin, bahkan varian original pun sudah memiliki cita rasa yang gurih. “Paling sotong 300, tahu 300-lah. Cibay 100 paling. Jadi 700-an,” ungkap Pak Toro mengenai jumlah stok yang dibawanya setiap hari.
Dedikasi Pak Toro dalam berdagang terlihat dari jadwalnya yang padat berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain. Sebelum tiba di SMA 2 Purwokerto pada pukul 16.30 atau 17.30, ia terlebih dahulu berjualan di SMA 1 pada pukul 15.30. Saat pagi hari, ia pun sudah mulai beraktivitas sejak pukul 06.00 pagi untuk menyasar konsumen di lingkungan sekolah. “Sore jam 17.30 sampai Magrib-lah, sore doang. Soalnya saya kalau siang di sekolahan sih,” jelasnya mengenai pembagian waktu berjualan yang disiplin.
Tantangan muncul ketika masa libur sekolah tiba, namun hal itu tidak menyurutkan semangatnya untuk terus mencari nafkah. Ketika sekolah sepi, Pak Toro mengubah strateginya dengan berkeliling masuk ke kampung-kampung demi menjangkau pembeli. “Keliling kampung… Kampung-kampung, soalnya nggak ada anak sekolah,” tuturnya. Menariknya, meski berjualan secara tradisional, ia sudah mengikuti perkembangan zaman dengan menyediakan layanan pembayaran melalui QRIS selain pembayaran tunai.
Melalui usaha kecilnya ini, Pak Toro menggantungkan harapan sederhana namun bermakna untuk masa depannya. Ia pun membuka diri bagi siapa saja yang ingin memesan dalam jumlah banyak melalui layanan WhatsApp. Menutup percakapan, ia menyampaikan doa yang tulus bagi usahanya: “Ya harapan saya ya lancar lah. Laris, lancar, sehat, waras, selamat. Itu nomor satu ya,” pungkasnya dengan penuh rasa syukur.
Penulis/Editor : Desmonda Azhar Ramadhan