Emas di Balik Tumpukan Sampah: Kisah Inspiratif Bank Sampah Inyong Desa Kutasari

Emas di Balik Tumpukan Sampah: Transformasi Ekonomi Warga Desa Kutasari Sulap Sampah Jadi Cuan (Foto/Dokumentasi : Reza Dwi Zulfikri)

NEWSBMSTV Purwokerto – Di sebuah sudut Kabupaten Banyumas, tepatnya di Desa Kutasari lingkungan RT 01 RW 02, sampah tidak lagi dipandang sebagai limbah yang mengganggu, melainkan sumber kesejahteraan. Adalah Ibu Nur Hayati, sosok di balik berdirinya Bank Sampah Inyong, yang mengawali langkah ini sejak tahun 2014 saat suaminya menjabat sebagai Ketua RT. Awalnya, program ini dijalankan dengan konsep sederhana bernama “Sedekah Sampah” yang bertujuan untuk meminimalisir iuran warga dengan cara mengumpulkan sampah dari setiap rumah untuk dikelola bersama.

Sistem kerja Bank Sampah Inyong di Desa Kutasari sangat terstruktur, mulai dari pengambilan sampah di rumah warga, proses pemilahan, hingga penjualan yang hasilnya masuk ke kas bendahara. Uang yang terkumpul kemudian diputar kembali dalam bentuk sistem “setengah koperasi,” di mana warga dapat meminjam dalam bentuk barang. Dampak ekonominya pun sangat nyata; pada tahun pertama, mereka berhasil mengumpulkan sembilan juta rupiah untuk piknik satu RT, tahun kedua dibagikan dalam bentuk sembako, dan tahun ketiga digunakan untuk pembuatan seragam ibu-ibu PKK.

Tidak hanya menjual sampah kering, Bank Sampah Inyong juga bertransformasi menjadi bengkel kreatif yang mengubah kantong kresek dan botol plastik menjadi produk kerajinan bernilai tinggi.

“Ini dompet dari kantong kresek harganya dari sepuluh ribu sampai seratus ribu, ada yang dua ratus ribu kalau pekerjaannya sulit dan butuh ekstra waktu,” ungkap Ibu Nur Hayati menjelaskan nilai seni dari produk mereka.

Inovasi ini membuktikan bahwa dengan ketelatenan, sampah anorganik di Desa Kutasari bisa memiliki nilai jual yang kompetitif di pasar.Keberhasilan ini tidak lepas dari dukungan teknologi dan perhatian pemerintah, mulai dari pelatihan oleh Dinas Lingkungan Hidup sejak 2016 hingga pemberian hibah mesin dan armada Tossa dari kementerian. Dalam hal pemasaran, Ibu Nur Hayati memanfaatkan media sosial secara aktif agar jangkauannya lebih luas. “Kalau saya kan ikutnya IG, jadi kita masukkan ke IG, ke Facebook, terus grup-grup WA di mana-mana kita ikut,” tuturnya mengenai strategi promosi yang dilakukan untuk memperkenalkan Bank Sampah Inyong.

Kini, Bank Sampah Inyong telah membawa perubahan perilaku yang signifikan di Desa Kutasari, bahkan anak-anak kecil pun mulai peduli dengan memungut sampah di jalan untuk ditukarkan di bank sampah. Ibu Nur Hayati berharap kesadaran akan lingkungan ini terus tumbuh dan masyarakat semakin aktif mengurangi produksi sampah. Baginya, bank sampah bukan sekadar tempat mengumpulkan limbah, melainkan sarana edukasi untuk menunjukkan bahwa sampah bisa menjadi berkah jika dikelola dengan hati dan kreativitas.

Penulis/Editor : Desmonda Azhar Ramadhan