
Pot-pot batu dan ornamen cantik tertata rapi Foto/Dok : Ilham Syahrin Ramadhan
NEWSBMSTV Purwokerto– Di pinggir Jalan Raya Baturraden KM 8, tepatnya di Desa Rempoa, deretan pot-pot batu dan ornamen cantik tertata rapi menyapa setiap pengendara yang melintas. Di balik deretan karya estetik tersebut, sosok pria bernama Nardi telah menghabiskan sebagian besar hidupnya bergelut dengan debu semen dan pasir demi menghidupkan seni kerajinan pot.
Melalui bengkel kerja yang ia beri nama “Udi Waras”, Nardi telah menekuni usaha ini sejak tahun 1991. Bukan waktu yang singkat; lebih dari tiga dekade ia habiskan untuk mengasah keterampilannya secara otodidak.
“Enggak (turun-temurun), ya dari keterampilan aja. Awal-awalnya kerja ikut orang, jadi tahu teori dan skill-nya, akhirnya buat sendiri,” kenang Pak Nardi saat ditemui di tempat produksinya.
Setiap harinya, mulai pukul 08.00 hingga 17.00 WIB, Nardi mengolah bahan baku sederhana seperti semen, pasir, kawat, dan oli menjadi barang bernilai jual tinggi. Proses pembuatannya memerlukan kesabaran ekstra. Untuk sebuah pot jenis teraso, ia membutuhkan waktu sekitar 3 hingga 4 hari. Sementara untuk pot model cat hitam yang lebih simpel, prosesnya memakan waktu sekitar 2 hingga 3 hari hingga siap dipasarkan.
Soal harga, Nardi mematok angka yang cukup terjangkau. Pot teraso kecil dijual mulai dari kisaran Rp50.000 hingga Rp80.000, sedangkan pot model cat hitam dibanderol mulai harga Rp45.000.
Meski dikelola secara sederhana tanpa pembukuan keuangan yang rumit, pasar pot buatan Pak Nardi ternyata telah melanglang buana hingga ke luar daerah.
“Pemasaran di sini, cuma ada pedagang dari luar kota yang ambil. Ada daerah Slawi, Pemalang, Kebumen, Gombong, sampai Banjarnegara,” jelasnya.
Prinsip Nardi sederhana saja: terus bekerja dengan jujur dan menjaga kualitas. Di tengah gempuran produk plastik pabrikan, kesetiaannya pada semen dan pasir membuktikan bahwa sentuhan tangan manusia dan kreativitas lokal masih memiliki tempat spesial di hati masyarakat.
Penulis/Editor: Riyan Budi Prasetyo