Sisa Lumpur di Balik Solidaritas: Perjuangan Warga Beji Menjinakkan Kali Banjaran

Kondisi sungai Setelah Pembersihan luapan pasir dan lumpur( Foto/Dok: Ilham syahrin Ramadhan)

NEWSBMSTV Purwokerto– Suara mesin alat berat mungkin sudah berhenti menderu, namun kecemasan belum sepenuhnya luntur dari raut wajah warga di pinggiran Kali Banjaran. Setelah tiga hari berjibaku melawan luapan pasir dan lumpur, kondisi sungai yang menjadi urat nadi warga Desa Beji ini masih menyisakan pekerjaan rumah yang besar.
Pembersihan besar-besaran yang dimulai sejak hari Minggu hingga Selasa lalu memang telah membuka sumbatan utama. Namun, pantauan di lokasi pada hari Rabu menunjukkan fenomena yang mengkhawatirkan: sedimen lumpur mulai kembali mengendap dan menebal di dasar sungai.

Bagi Adi Swarno dan warga lainnya, pembersihan ini adalah perlombaan melawan waktu. Endapan yang kembali muncul menandakan bahwa ancaman dari hulu belum benar-benar reda.
“Ini lumpurnya sudah mulai tebal lagi,” ujar Adi sembari menunjuk ke arah aliran air yang masih nampak keruh. Kondisi ini membuktikan bahwa meski pengerukan telah dilakukan, material pasir dari luapan Sabtu malam lalu telah mengubah kontur dasar sungai secara drastis.

Dampak dari luapan ini menyisakan luka mendalam bagi para pembudidaya ikan di sepanjang aliran Kali Banjaran. Air yang bercampur lumpur pekat menjadi racun mematikan bagi ekosistem sungai.
Ikan-ikan milik warga ditemukan mati di sepanjang aliran sungai akibat air yang terlalu pekat.
Hanya warga yang menggunakan aliran air dari selang (sumber air bersih terpisah) yang berhasil menyelamatkan ternak ikan mereka.

Sebelum dikeruk, pasir dan lumpur benar-benar menutup jalur air sehingga aliran tidak sampai ke badan sungai dan justru meluap ke area sekitarnya.

Meski dibayangi kemungkinan luapan susulan, warga Desa Beji, Bobosan, dan Karangsalam telah menunjukkan kekuatan kolektif mereka. Dengan merogoh kocek pribadi untuk menyewa alat berat, mereka membuktikan bahwa keselamatan lingkungan adalah tanggung jawab bersama.
Kini, warga hanya bisa waspada sembari menatap langit, berharap cuaca di hulu lebih bersahabat agar lumpur yang baru saja mereka singkirkan tidak kembali mengubur harapan mereka di Kali Banjaran.


Penulis/Editor: Riyan Budi Prasetyo