
Wilda melaksanakan buka bersama dengan muslim dari Indonesia yang sedang berada di kota Krokow, Polandia (Foto: Dok: Unsoed)
NEWSBMSTV-PURWOKERTO – Bulan Ramadhan selalu menghadirkan suasana khas bagi umat Muslim di berbagai penjuru dunia. Namun, pengalaman berbeda dirasakan oleh Wilda Khafida yang menjalani ibadah puasa di Polandia, negara dengan jumlah penduduk Muslim yang sangat kecil.
Dosen muda dari Universitas Jenderal Soedirman tersebut saat ini tengah menempuh pendidikan doktor di Institute of Biology and Earth Sciences UKEN. Polandia sendiri memiliki sekitar 38 juta penduduk dan menjadi salah satu negara dengan populasi terbesar di Uni Eropa, namun jumlah Muslim di negara itu diperkirakan kurang dari satu persen dari total penduduk.
Wilda mengungkapkan, meskipun jumlah Muslim masih minoritas, perkembangan komunitas Muslim di Polandia terus meningkat dari tahun ke tahun.
“Saat saya menempuh studi magister pada 2018, komunitas Muslim Girl hanya sekitar 50 orang. Ketika saya kembali pada Desember 2025 untuk melanjutkan studi doktor, jumlahnya sudah meningkat hingga sekitar 400 anggota,” ujar Wilda.
Menurutnya, masyarakat Polandia juga memiliki rasa ingin tahu yang tinggi terhadap Islam. Mereka kerap menanyakan berbagai hal, mulai dari makna salat, alasan Muslimah mengenakan hijab, hingga mengapa umat Islam berpuasa di bulan Ramadhan.
“Kadang mereka bertanya tentang sholat, jilbab, atau puasa. Saya mencoba menjelaskan menggunakan bahasa Polandia agar lebih mudah dipahami,” jelasnya.
Sebagai seorang ekologis, aktivitas penelitian Wilda sering membawanya bekerja di alam terbuka. Kondisi tersebut membuat fasilitas ibadah tidak selalu tersedia.
“Hal yang saya syukuri selama di Polandia adalah saya terbiasa menjaga wudhu, karena fasilitas ibadah tidak selalu ada. Saya pernah sholat di perpustakaan, di hutan, di halaman bahkan di pinggir danau,” ungkapnya.
Menjalani Ramadhan di negara dengan empat musim juga menghadirkan tantangan tersendiri. Pada musim dingin, suhu di Polandia bisa mencapai minus 20 derajat Celsius sehingga aktivitas di luar ruangan membutuhkan pakaian berlapis.
Wilda bahkan pernah merasakan puasa hingga 18 jam.
“Saya pernah merasakan puasa selama 18 jam. Waktu Magrib sekitar jam 9 malam, Isya jam 11 malam, dan adzan Subuh sekitar jam 2 pagi,” tuturnya.
Untuk menjaga stamina, ia memilih mengonsumsi makanan tinggi protein dan lemak agar tubuh tetap kuat menjalani aktivitas selama berpuasa.
Terkait makanan halal, Wilda mengatakan ketersediaannya cukup mudah ditemukan di beberapa kota besar di Polandia seperti Warsawa, Krakow, dan Gdansk.
“Di kota-kota besar ada daging bersertifikat halal. Selain itu juga banyak restoran vegan, restoran Turki, Arab, dan Timur Tengah yang bisa menjadi alternatif,” jelasnya.
Kisah pengalaman Ramadhan di negeri minoritas Muslim tersebut juga dibagikan Wilda dalam kajian Ramadhan di Masjid Kampus Nurul Ulum Unsoed pada Minggu (8/3/2026) yang diikuti mahasiswa Muslim Unsoed.
Sejarah Islam di Polandia sendiri telah berkembang sejak tahun 1683 melalui komunitas Muslim Tartar yang menjadi komunitas Muslim tertua di negara tersebut. Seiring waktu, fasilitas ibadah seperti Islamic Center mulai berkembang di kota-kota besar.
Di pusat-pusat kegiatan Islam tersebut, berbagai aktivitas digelar selama Ramadhan seperti pengajian rutin, salat tarawih, hingga pembagian takjil yang juga diperuntukkan bagi masyarakat non-Muslim.
Menariknya, Wilda kini tidak lagi menjalani Ramadhan sendirian seperti saat pertama kali datang ke Polandia pada Juni 2018. Saat ini ia dapat berpuasa bersama keluarga karena sang suami juga tengah menempuh studi doktor di Jagiellonian University.
Pengalaman tersebut menjadi kisah inspiratif tentang bagaimana umat Muslim tetap dapat menjalankan ibadah dengan penuh semangat meskipun berada jauh dari tanah air dan hidup di tengah masyarakat dengan jumlah Muslim yang sangat kecil.
Penulis/Editor: Ari Nugroho
Leave a Reply