Geliat Kopi Pinggir Jalan, Tren Coffee Booth yang Menjamur di Purwokerto

Potret Pengunjung yang sedang membeli coffe di stand nescafe (Foto/Dok: Mu’afa Faiz Rifa Ulhaq)

NEWSBMSTV Purwokerto – Purwokerto kini semakin hidup dengan kehadiran berbagai coffee booth atau kedai kopi kontainer yang menjamur di sepanjang trotoar kota. Fenomena ini menawarkan akses kopi cepat saji dengan harga ramah di kantong, mulai dari Rp4.000 hingga Rp5.000 per cup. Merek besar seperti Nescafe hingga kedai lokal seperti “Java Cafe” dan “Espresso” kini bersaing ketat di lokasi-lokasi strategis untuk menjangkau mahasiswa dan pekerja yang melintas.

Pinkan Agnesia, pengelola salah satu booth yang telah beroperasi sejak akhir 2025, menjelaskan bahwa bisnis ini sangat bergantung pada lokasi. Menurutnya, konsep kedai kontainer ini sangat diminati karena harganya yang murah dan pilihannya yang banyak.

“Harganya terjangkau, terus murah juga, dan variannya juga banyak,” ujar Pinkan saat menjelaskan mengapa banyak pelanggan yang datang ke tempatnya.

Strategi ini terbukti efektif menarik perhatian massa di tengah padatnya aktivitas kota.
Dari sisi konsumen, kepraktisan menjadi alasan utama mereka beralih ke coffee booth. Alben, seorang pelanggan setia, merasa kualitas rasa yang didapat sudah sangat sepadan dengan uang yang dikeluarkan. Selain itu, ia menyoroti faktor kenyamanan parkir yang jarang ditemukan di kedai besar.

“Di sini nggak ada tukang parkir, itu yang paling utama,” kata Alben sambil menambahkan bahwa ia lebih sering membeli kopi di coffe booth untuk dibawa pulang atau sambil mengerjakan tugas.

Maraknya booth kopi ini mencerminkan perubahan gaya hidup masyarakat Purwokerto yang menginginkan efisiensi tanpa mengorbankan selera. Dengan sistem antrean digital dan pelayanan yang cepat, kedai-kedai ini berhasil mendemokratisasi budaya ngopi. Bisnis ini diprediksi akan terus tumbuh selama mampu menjaga konsistensi rasa dan harga yang tetap bersaing di tengah dinamika kuliner perkotaan.

Penulis / Editor : Muhammad Fawaz Nurfuadi.