
Seorang pekerja tengah melakukan proses pencetakan paving blok secara manual di Desa Cilongok, Banyumas (foto : Dok. Fazal Muhtadie)
NEWSBMSTV Purwokerto– Industri paving dan batako di Desa Cilongok, Kecamatan Cilongok, Banyumas, tetap eksis menggeliat meskipun telah berdiri sekitar 10 tahun sejak 2015. Usaha yang dikelola mandiri ini menjadi salah satu penopang kehidupan keluarga, produksi rumahan ini suplai ribuan meter persegi produk berkualitas untuk proyek infrastruktur lokal dan perumahan.
Kartoyo pemilik dari usaha paving dan batako menjelaskan, bahwa awal mula usaha nya berdiri karena keinginan dari Kartoyo sendiri yang telah lama bekerja di salah satu toko bangunan yang ada di Cilongok. Berawal dari hal tersebut muncul keinginan untuk membuat tempat produksi pribadi yang sederhana namun sangat bermanfaat bagi dirinya dan membantu orang-orang disekitar nya.
Pemilik usaha paving dan batako, Kartoyo, menjelaskan bahwa harga yang ditetapkan tidak terlalu mahal dan tidak murah juga. Namun kualitas yang dihasilkan tidak kalah dengan paving dan batako di tempat yang lainnya.
“Untuk paving kita jual meteran per meter persegi isinya biasanya 27 harga nya 60 ribu, kalo untuk batako nya itu per biji 3.500 an,” jelas Kartoyo.
Proses pembuatan paving dan batako tetap berjalan setiap hari, meskipun pesanan tidak selalu ada setiap harinya. Mulai dari pencampuran semen dan pasir, pencetakan, hingga proses pengeringan dilakukan dengan metode sederhana. Meski demikian, hasil produksi tetap diminati konsumen, khususnya untuk kebutuhan pembangunan rumah dan infrastruktur skala kecil.
Salah satu pekerja paving dan batako, Darno, mengatakan kendala yang sering ditemui ketika proses pembuatan adalah pasir yang masih kasar sehingga sulit untuk dicetak. Namun, Darno mengungkapkan bahwa, dalam sehari ia bisa membuat hingga 125 paving dan batako.
“Kalo pasir nya terlalu kasar ya susah, jadi kalo sehari paling bisa 100-125 an lah,” Ujar Darno.
Sedangkan menurut Kartoyo, yang masih sering menjadi kendala yakni mengenai pemasaran dan juga proses produksi yang masih manual, belum menggunakan mesin press seperti yang digunakan di pabrik-pabrik yang lebih modern.
“Untuk kendala nya ya terkait pemasaran, terus juga sekarang banyak paving yang produksi nya pada pake mesin press sedangkan ditempat saya masih manual, namun untuk kualitas ya masih bisa bersaing,” Ujar Kartoyo.
Dengan segala keterbatasan yang ada, industri paving dan batako lokal di Cilongok tetap menunjukkan daya tahannya. Ketekunan pelaku usaha dalam menjaga kualitas dan konsistensi produksi menjadi kunci bertahannya usaha ini.
Penulis/Editor : Muhammad Nahdlian