
Pekerja di Workshop Bakoel Jati Belanda sedang memindahkan set kursi dari krat bekas yang siap dikirim (Foto : Dok. Fazal Muhtadie)
NEWSBMSTV Purwokerto – Sebuah workshop pengolahan kayu jati belanda di Kabupaten Banyumas berhasil menyulap limbah kayu menjadi furnitur kafe bernilai estetika tinggi dengan sentuhan gaya retro. Inovasi ini tidak hanya menciptakan produk kreatif dan fungsional, tetapi juga berkontribusi dalam upaya pengurangan limbah serta pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal.
Di balik dinding workshop yang nyentrik dengan ornamen vintage dan tumpukan krat minuman lawas, terdapat ketelatenan Widi, pemuda berusia 29 tahun yang menjadi otak di balik “Workshop Kayoe Jati Belanda”. Perjalanan bisnis ini sebenarnya telah dimulai sejak tahun 2019, namun kala itu Widi hanya berfokus pada penjualan bahan baku kayu semata. Naluri bisnisnya kemudian bergerak dinamis membaca peluang pasar, setelah berjalan sekitar setengah tahun ia memutuskan untuk banting setir dan memfokuskan usahanya pada produksi barang jadi. Transformasi ini menjadi titik balik penting, di mana Widi tidak lagi hanya menjual kayu mentah, melainkan menyulapnya menjadi berbagai perlengkapan interior yang bernilai seni.
“Rata-rata ya yang punya kafe mas gitu usaha kafe karena kita lebih condong ke set up kafenya sih mas gitu bukan furniture barang-barang yang gede gede gitu nggak kita condongnya ke pajangan kafe terusan meja bar gitu kitchen kitchen kaset kaset-kaset jadul kayak gini kan ketemunya buat bacaan kafe mas nantinya gitu pemesanan itu rata-rata”, Ujar Widi.
Daya tarik Workshop Kayoe Jati Belanda kini tidak lagi sekadar terpaku pada pembuatan set meja dan kursi untuk kebutuhan dasar kafe semata, melainkan telah merambah ke berbagai elemen dekorasi yang unik. Widi jeli melihat kebutuhan pasar akan detail estetika, sehingga ia turut memproduksi dan menjual beragam aksesori pendukung suasana, seperti figura dinding yang berisi koleksi kaset pita jadul yang disusun artistik hingga berbagai macam barang antik dan retro lainnya. Ketersediaan barang-barang dekoratif ini menjadikan workshopnya sebagai destinasi “satu atap” bagi para pemilik usaha yang ingin memburu pernak-pernik masa lalu untuk memperkuat konsep vintage di tempat usaha mereka tanpa perlu mencari ke banyak tempat.
Strategi harga yang diterapkan Widi terbukti sangat kompetitif dan ramah bagi kantong para perintis usaha, khususnya pengusaha coffee shop yang menjadi mayoritas pelanggannya. Untuk satu set furnitur atau paket produk tertentu, ia mematok harga di kisaran Rp 300.000 bagi pembeli yang datang dan bertransaksi langsung di workshop. Sementara itu, untuk menjangkau pasar yang lebih luas melalui kanal penjualan online, produknya dibanderol dengan harga sekitar Rp 350.000 per set. Kombinasi antara furnitur fungsional dan ketersediaan barang-barang dekorasi antik dengan harga terjangkau inilah yang membuat produk buatan Widi diminati banyak orang.
Meski operasionalnya terlihat sederhana dari sebuah bengkel kerja rumahan, jangkauan distribusi Workshop Kayoe Jati Belanda terbukti sangat luas dan impresif. Pesanan yang datang tidak hanya terbatas di pulau Jawa saja, melainkan telah “terbang” melintasi lautan hingga sampai ke tangan konsumen di Sumatera, Sulawesi, bahkan hingga ke ujung timur Indonesia di Papua. Dari ketekunan mengolah kayu jati belanda serta kurasi barang-barang retro ini, Widi kini mampu mengantongi pendapatan rata-rata berkisar antara Rp 3 hingga 4 juta setiap bulannya, membuktikan bahwa bisnis furnitur dan dekorasi spesialis dengan karakter rustic memiliki tempat tersendiri yang kuat di hati pasar nasional.
“Pemesanan itu rata-rata luar Jawa ada mas Sumatera sulawesi sampai ke Papua kemarin malahan gitu main media di TikTok juga sih mas rata-rata kalau yang luar Jawa itu rata-rata lihat di tiktok-nya sih mas”, tambahnya.
Dengan sentuhan kreativitas dan inovasi, Workshop Jati Belanda membuktikan bahwa limbah kayu dapat diubah menjadi produk furnitur berkualitas, sekaligus mendukung konsep ekonomi berkelanjutan dan ramah lingkungan.
Editor/Penulis : Mohamad Hafiz Ulil Arbab
Dokumentasi : Fazal Muhtadie