Pelukis Doodle Fahmi DNR dari Banjarnegara Siap Tampil di Pameran Seni Internasional Jerman 2026 Bersama Niluh Swati Indonesian Art Program (NSIAP)

Pelukis Doodle Asal Banjarnegara bersama hasil karyanya dan bersiap pameran internasional bersama Niluh Swati Indonesian Art Program (NSIAP)di German (foto: Istimewa)

NEWSBMSTV-BANJARNEGARA – Pelukis doodle Indonesia Fahmi DNR resmi memindahkan studio kreatifnya dari Kabupaten Purbalingga ke Kabupaten Banjarnegara. Kepindahan tersebut menjadi awal babak baru perjalanan seninya sekaligus langkah untuk mengembangkan proyek kreatif jangka panjang yang akan berpusat di Banjarnegara.

Meski berpindah studio, Fahmi menegaskan Purbalingga tetap memiliki tempat istimewa dalam perjalanan kariernya. Berbagai karya penting, pameran tunggal, hingga kolaborasi seni lahir selama ia berkarya di daerah tersebut. Bahkan, sejumlah karyanya kini telah menjadi koleksi para pecinta seni dari berbagai wilayah di Indonesia hingga luar negeri.

“Purbalingga akan selalu menjadi rumah dalam perjalanan saya sebagai seniman. Banyak pengalaman berharga yang saya dapatkan selama berkarya di sana. Kepindahan studio ke Banjarnegara dilakukan karena saya sedang mempersiapkan sebuah proyek kreatif jangka panjang yang akan saya bangun di sini,” ujar Fahmi DNR.

Babak baru tersebut diawali dengan kabar membanggakan. Fahmi DNR terpilih sebagai salah satu dari 27 perupa Indonesia yang akan mengikuti ARTe Kunstmesse Wiesbaden 2026, pameran seni internasional yang akan digelar pada 11–13 September 2026 di RheinMain CongressCenter, Wiesbaden, Jerman.

Lahirnya NSIAP berangkat dari pengalaman pribadinya selama membangun karier seni rupa nya di Jerman sejak 2019.(Foto: Dok Niluh Swati)

Keikutsertaan Fahmi difasilitasi melalui Niluh Swati Indonesian Art Program (NSIAP) yang diprakarsai oleh seniman Indonesia yang kini berkarier di Jerman, Niluh Swati. Program tersebut hadir sebagai wadah untuk memperkenalkan karya-karya seniman Indonesia kepada publik internasional sekaligus membuka akses jejaring dengan galeri, kolektor, dan institusi seni di Eropa.

Menurut Niluh Swati, lahirnya NSIAP berangkat dari pengalaman pribadinya selama membangun karier di Jerman sejak 2019. Ia melihat masih banyak seniman Indonesia yang memiliki kualitas tinggi, namun belum mampu menembus pasar internasional karena keterbatasan akses, informasi, jaringan, hingga biaya.

“Indonesia memiliki banyak seniman berkualitas, tetapi masih banyak yang kesulitan menembus pasar internasional karena keterbatasan akses, informasi, jaringan, dan biaya. Melalui NSIAP, saya ingin menjadi jembatan yang membuka peluang bagi seniman Indonesia untuk berpameran, membangun relasi, dan berkembang di dunia seni internasional,” jelas Niluh Swati.

Sebanyak 27 perupa Indonesia akan tampil dalam program tersebut, yakni I Wayan Mardiana, Doddy “MR D” Hernanto, Fahmi DNR, Arzethian, Putu Arcana, Prassboedhi, Agus Wicaksono, Con, Didik Hamdi, Dodi Darussalam, Achy Askwana, Epot Owl, Hary Nurdianto, Harhari Gustaf, Ifat Futuh, Juan Widhiyanto, Kusswoyo, I Made Sesangka Puja Laksana, Masadjie Noer, Rizal Ramdhani, Restu Adi, Sanher, Sapto Oetomo, Tingga, Yuni Daud, Zulfian Hariyadi, serta Niluh Swati.

Sebanyak 27 perupa Indonesia akan tampil dalam program Niluh Swati Indonesian Art Program (NSIAP) Pada 11–13 September 2026 di RheinMain CongressCenter, Wiesbaden, Jerman(Foto: Istimewa)

Niluh mengungkapkan, tantangan terbesar bukan sekadar membawa karya ke Eropa, tetapi juga mempersiapkan para seniman agar siap bekerja secara profesional di tingkat internasional.

“Banyak seniman Indonesia memiliki karya yang sangat baik, tetapi masih membutuhkan pendampingan dalam hal administrasi internasional, seperti membuat Certificate of Authenticity, invoice profesional, memahami kontrak, hingga penggunaan tanda tangan elektronik. Melalui NSIAP, kami tidak hanya membuka akses pameran, tetapi juga membimbing para seniman agar siap memasuki pasar seni internasional,” katanya.

Berdasarkan pengalamannya mengikuti berbagai pameran di Jerman, Niluh menyebut karya-karya seniman Indonesia selalu mendapat respons positif dari para pemerhati seni.

“Mereka tertarik pada kualitas karya, cerita, dan identitas budaya Indonesia. Kami berharap pameran NSIAP di ARTe Wiesbaden 2026 juga mendapat sambutan yang baik dan membuka peluang kolaborasi di masa mendatang,” ujarnya.

Pameran ini terbuka untuk berbagai pendekatan seni kontemporer. Namun, NSIAP lebih mengutamakan karya yang memiliki kualitas artistik sekaligus mampu memperkenalkan budaya, nilai, identitas, maupun cerita Indonesia kepada masyarakat dunia.

Pameran NSIAP di ARTe Wiesbaden 2026 juga mendapat sambutan yang baik dan membuka peluang kolaborasi Bagi para seniman di masa mendatang(Foto: Istimewa)

Program NSIAP juga didukung oleh sejumlah kolektor seni yang memiliki visi serupa dalam memperluas kiprah seni rupa Indonesia di tingkat internasional. Bahkan, sebelum pameran berlangsung, pihak penyelenggara mengaku telah menerima sejumlah tawaran kerja sama dari galeri dan pelaku seni di Jerman.

Sementara itu, bagi Fahmi DNR, kesempatan berpameran di Jerman menjadi momentum terbaik untuk mengawali perjalanan dari studio barunya di Banjarnegara.

“Saya bersyukur dapat mengawali babak baru ini dengan sebuah kesempatan yang sangat berharga. Berangkat bersama 26 pelukis Indonesia lainnya untuk memperkenalkan karya di Jerman merupakan pengalaman yang membanggakan. Semoga ini menjadi awal yang baik bagi proyek kreatif yang sedang saya siapkan di Banjarnegara,” ungkapnya.

Fahmi DNR dikenal sebagai pelukis dengan gaya doodle khas melalui “Fahmi DNR Karakter”, karya orisinal yang telah memperoleh perlindungan hak cipta dan terdaftar secara resmi di Kementerian Hukum Republik Indonesia. Karya-karyanya telah dipamerkan di berbagai kota serta menjadi koleksi para pecinta seni dari Indonesia hingga mancanegara.

Niluh Swati berharap NSIAP menjadi pintu pembuka bagi semakin banyak seniman Indonesia untuk tampil di panggung internasional. Ia juga berpesan agar para perupa terus berkarya dan tidak ragu mengembangkan kemampuan.

“Teruslah berkarya. Jangan menunggu semuanya sempurna atau punya biaya besar untuk mulai. Berkaryalah dengan apa yang ada, lalu terus belajar dan berkembang. Jangan hanya mengandalkan bakat, tetapi bangun juga portofolio, jaringan, dan sikap profesional. Kesempatan akan datang bagi mereka yang konsisten, mau belajar, dan berani mencoba,” pungkas Niluh Swati.

Penulis/Editor: Ari Nugroho